September 1, 2008

Sekilas Sejarah dan Teologi Ekaristi

Istilah Perayaan Ekaristi dan Misa Kudus boleh sama-sama digunakan. Istilah perayaan Ekaristi menunjuk apa yang dirayakan, yaitu syukur Gereja atas misteri penebusan Tuhan; Misa Kudus menunjuk segi perutusan kita di tengah dunia.

1. Kata Ekaristi berasal dari bahasa Yunani eucharistia yang berarti puji-syukur. Kata Yunani Eucharistia ini bersama kata Yunani eulogia ( = juga puji syukur ) digunakan untuk menterjemahkan kata Ibrani berakhah yakni doa berkat dalam Perjamuan Yahudi dan dalam Alkitab disebut perjamuan kudus.



Penetapan Ekaristi

2. Gereja merayakan Ekaristi bukan karena keinginan Paus, Uskup, atau para imam, tetapi karena memang diperintahkan oleh Tuhan Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir: 'Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku' (Luk 22:19, 1Kor 11;24).

3. Ekaristi ditetapkan oleh Tuhan Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir. Tetapi, Perjamuan Malam Terakhir sendiri bukan Perayaan Ekaristi Gereja yang pertama. Ekaristi Gereja merayakan wafat dan kebangkitan Tuhan, padahal Tuhan Yesus belum wafat dan bangkit saat Perjamuan Malam Terakhir.

Bentuk Misa dalam Sejarah Gereja

4. Sejak Gereja abad-abad pertama, bentuk dasar Perayaan Ekaristi tersusun atas Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kepastian bentuk ini dibuktikan pada kesaksian Santo Yustinus Martir pada pertengahan abad kedua.

5. Pada abad 4 - 6 ditambahkan banyak ritus pada bentuk dasar Perayaan Ekaristi tersebut, sehingga Perayaan Ekaristi memperoleh bentuknya yang lengkap sebagaimana dikenal dalam Misa Trente dan kemudian diperbaharui dalam Misale Romanum 1970 yang darinya TPE (Tata Perayaan Ekaristi) baru kita berasal.

Bahasa Latin

6. Bahasa Latin mulai digunakan di Gereja Barat sejak abad 3, dan pada abad 4, Paus Damasus (th 380) memberlakukan bahasa Latin sebagai bahasa Liturgi.

7. Baru pada Konsili Vatikan II (th 1962 - 1964) penggunaan bahasa pribumi sebagai bahasa liturgi diizinkan.

Misa pribadi

8. Misa pribadi oleh seorang imam, yang biasanya dilayani oleh seorang misdinar, biasa dilaksnakan sejak Abad Pertengahan karena adanya ujud-ujud Misa dan kebiasaan biara-biara monastik.

9. Misa pribadi itu tetap merupakan perayaan Ekaristi yang sah dan boleh karena hakikatnya tetap perayaan seluruh Gereja. Yang berbeda dari Misa-misa yang dihadiri umat adalah bentuknya. Misa pribadi dirayakan dalam bentuk sederhana dan tidak dihadiri umat.

Elevasi dan Komuni Mata

10. Kebiasaan imam mengangkat Hosti Suci sesudah kata-kata institusi atau konsekrasi (disebut evelasi) dimaksudkan agar dapat dipandang umat. praktek ini terjadi sejak abad 13. Sementara praktek pengangkatan piala sesudah kata-kata konsekrasi baru pada abad 16.

11. Memandang Tubuh Yesus yang diangkat atau ditahtakan dalam Adorasi Ekaristi sering juga disebut Komuni Mata atau Komuni Batin. Komuni mata atau komuni batin ini menemukan puncaknya dalam penerimaan komuni Tubuh (dan Darah) Kristus saat Misa Kudus.

Realis Praesentia

12. Dalam teologi, istilah realis praesentia menunjuk kehadiran Tuhan Yesus Kristus yang real dan nyata dalam Ekaristi, yakni dalam rupa roti dan anggur.

13. Perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus disebut Transsubstantiatio; Istilah ini diajarkan secara resmi pertama kali oleh Konsili Lateran IV tahun 1215.

Ajaran Konsili tentang Komuni Dua Rupa

14. Konsili Konstanz (th 1415) menolak ajaran Yohanes Hus yang menuntut komuni dua rupa sebagai keharusan mutlak dalam Misa. Gereja mengajarkan bahwa komuni yang hanya dengan satu rupa juga tetap sah karena Kristus hadir dalam setiap rupa roti ataupun anggur.

15. Konsili Trente (th 1551) mengajarkan bahwa seluruh Kristus (Christus totus) ada dalam setiap rupa dan dalam setiap bagian dari setiap rupa. Dengan demikian pada komuni dalam bentuk apapun, entah dua rupa atau satu rupa, dalam jumlah banyak atau potongan kecil, kita tetap menerima Kristus yang satu dan sama, seluruhnya dan seutuhnya.

Praktek Komuni

16. Praktek penerimaan komuni dengan menggunakan tangan jauh lebih tua daripada praktek penerimaan komuni dengan lidah. Pada zaman Gereja awal, umat menerima komuni dengan menggunakan tangan. Praktek penerimaan komuni dengan lidah baru dilakukan sejak abad 9.
17. Gereja mengizinkan praktek penerimaan komuni entah dengan tangan ataupun dengan lidah.

Komuni Satu atau Dua Rupa ?

18. Gereja sangat mendukung penerimaan komuni dua rupa kepada umat beriman.

19. Yang perlu diatur hanyalah bagaimana komuni dua rupa itu diterimakan. Uskup mempunyai wewenang untuk menentukan kaidah komuni dua rupa; yang penting ialah bahwa umat telah diberi pengarahan yang baik dan tidak ada bahaya pencemaran terhadap kekudusan Ekaristi, seperti darah Kristus yang jatuh di lantai dsb.

Tata Cara Menyambut Komuni


20. Sebelum menerima Tubuh (dan Darah) Kristus saat maju komuni, umat perlu menghormat kepada Tuhan yang hadir dalam Ekaristi, entah dengan membungkuk ataupun membuat gerakan tangan menyembah kepada Sakramen Mahakudus.

21. Komuni Darah Kristus dilayankan oleh imam kepada umat dengan cara entah umat meminum Darah Kristus dari piala apabila jumlah umat sedikit dan banyaknya anggur suci memungkinkan, atau dengan pencelupan Hosti yang telah dikonsakrir dan diletakkan oleh imam pada mulut si penerima komuni apabila jumlah umat relatif lebih banyak.

22. Praktek mempelai yang saling menerimakan komuni, yakni meletakkan Hosti Suci ke mulut pasangannya, bukanlah praktek yang diizinkan oleh Gereja. Oleh karena itu praktek tersebut hendaknya ditinggalkan.

Frekuensi Menyambut Komuni


23. Pada dasarnya komuni hanya disambut sekali sehari. Namun, apabila orang yang telah menyambut komuni itu mengikuti Misa Kudus lagi karena ada ujud yang lain, ia masih diperkenankan untuk menyambut komuni lagi.

24. Yang harus dihindari adalah pandangan bahwa dengan menyambut komuni sebanyak-banyaknya dalam waktu sehari, seseorang akan memperolah berkat Tuhan yang melimpah. Paham ini sudah termasuk pandangan magis.

Perutusan Ekaristi

25. Pembubaran umat pada akhir Misa Kudus berbunyi: Ite Missa Est. Arti harafiahnya: Pergilah, kalian diutus! Dalam teks TPE (Tata Perayaan Ekaristi) kita: Marilah kita pergi, kita diutus! Inilah perutusan kepada kehidupan konkret sehari-hari agar kita menghadirkan bagi sesama apa yang telah kita terima dari Tuhan: kasih dan hidupNya.

26. Berkat Tuhan yang disampaikan melalui tangan imam pada akhir Misa Kudus adalah jaminan kita dalam menjalankan perutusan ekaristis di tengah masyarakat kita. itulah Diri dan Hidup Allah sendiri yang dibagikan kepada kita agar kita hidup.

27. Perutusan ekaristi berarti kesediaan untuk membagikan hidup kita kepada sesama bukan karena kita baik atau ingin baik, melainkan karena kita telah lebih dahulu diberi Hidup Allah yang telah dibagikan melalui Perayaan Ekaristi yang kita rayakan.

Dari tulisan E. Martasudjita Pr, Tentang Ekaristi, Kanisius, 2008.



0 comments:

 
© Copyright 2008 Emmaus Journey Community . All rights reserved | Emmaus Journey Community is proudly powered by Blogger.com | Template by Template 4 u and Blogspot tutorial