September 13, 2008

Apa itu Magisterium?

Magisterium adalah wewenang mengajar Gereja. Wewenang ini ditetapkan oleh Yesus Kristus ketika Ia menjanjikan, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dia-lah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 14:16.26).

Kuasa mengajar ini dipercayakan Gereja kepada Paus dan para Uskup, seperti dinyatakan dalam Vatikan II, Dei Verbum #10, “Adapun tugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis dan diturunkan itu dipercayakan hanya kepada wewenang mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus.”


Apakah yang menjadi dasar dari Wewenang Mengajar Gereja ini?

Dalam Injil Matius 16:18, pada saat Yesus mengganti nama Simon menjadi Petrus, Yesus sekaligus mengatakan hal ini kepadanya, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus [artinya batu karang] dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”

Pula, dalam perutusan agung sesudah kebangkitan-Nya, Yesus mengatakan kepada kesebelas rasul (Yudas telah tewas menggantung diri dan Matias belum dipilih untuk menggantikannya): “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:18-20).

Kesebelas rasul itu adalah bapa-bapa Uskup Gereja yang pertama, dengan Petrus sebagai pemimpinnya. Perhatikan bahwa Yesus berjanji menyertai Gereja-Nya beserta para pemimpinnya “senantiasa sampai kepada akhir zaman” dan bahwa “alam maut tidak akan menguasainya.” Artinya adalah: dalam tugas mengajar, Gereja akan senantiasa disertai oleh perlindungan ilahi sampai kepada akhir zaman; dengan demikian, Gereja dijauhkan dari salah atau kesesatan yang mungkin.

Kecuali hanya jika Kitab Suci itu salah atau Yesus berbohong, maka Gereja yang dimaksud adalah Gereja Katolik. Tak ada gereja dari denominasi manapun, selain Gereja Katolik, yang dapat menarik garis lurus suksesi tak terpatahkan hingga kembali pada Petrus dan para rasul. Setiap gereja dari denominasi lain dapat menarik garis lurus mereka hanya hingga sampai pada individu tertentu atau sampai pada masa di mana mereka memisahkan diri dari Gereja yang dibangun atas dasar Petrus dan atas dasar iman yang diajarkan Gereja-Nya. (lihat “TEST: Apakah Gerejamu adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus?” oleh P. Francis J. Peffley).

Adakah dasar biblis lainnya yang menegaskan kuasa mengajar dari para rasul ini?
Ya, diantaranya: Luk 6:12-16; Mat 28:18-20; Yoh 20:21-23; 2Tes 2:15; 1Kor 12:12.28-31.

Mengapa Gereja Katolik menetapkan Paus dan para Uskup sebagai penerus Petrus dan para rasul?
Sebab demikianlah Yesus menetapkannya (lihat “Primat St Petrus” oleh P. William P. Saunders). Jabatan Petrus, pemimpin Gereja yang kelihatan di dunia ini, ditetapkan oleh Yesus; Yesus juga menjanjikan bahwa “alam maut tidak akan menguasainya.” Artinya bahwa jabatan tersebut tetap ada, bahkan setelah pemegang jabatannya yang pertama, yakni Petrus, telah pergi untuk menerima ganjaran abadi. Tuhan Yesus Sendiri yang memberikan kepada para rasul-Nya kuasa untuk mengikat dan melepaskan; Ia Sendiri juga yang mendirikan Gereja-Nya. Dengan tindakan-Nya ini, Yesus memperlengkapi komunitas-Nya dengan struktur yang akan tetap ada hingga Kerajaan-Nya sepenuhnya digenapi. Para rasul memahami benar hal ini, sebab itu mereka memilih seorang pengganti untuk menduduki jabatan Yudas (Kis 1:15-26).

Jika kita tidak mempunyai Paus sebagai pemimpin yang kelihatan (penerus Petrus) dan para Uskup (penerus para rasul) yang mendukungnya, maka akan terjadi kekosongan dan kekacauan. Tanpa kehadiran mereka secara fisik dan kelihatan untuk secara terus-menerus menafsirkan dan mengajarkan apa yang Yesus wariskan kepada kita, maka kita tak akan memiliki kesatuan iman (Ef 4:5). Sebagai bukti akan hal ini, coba lihat saja lebih dari 26,000 denominasi Protestan yang ada sekarang ini tanpa kesatuan iman bersama; itulah gambaran apabila kuasa mengajar dikesampingkan.

Apa itu doktrin?
Doktrin artinya “ajaran”. Doktrin Gereja Katolik meliputi segala macam pengajaran, baik iman maupun moral, yang dipercayakan Kristus kepada Gereja melalui para rasul dan disampaikan kepada kita demi keselamatan kita. Jadi, doktrin adalah ajaran yang diwahyukan Allah. Sebagian doktrin (seperti Trinitas) merupakan definisi-definisi konsiliaris yang diperteguh oleh otoritas paus, sementara sebagian doktrin lainnya merupakan definisi-definisi kepausan (seperti SP Maria Dikandung Tanpa Dosa). Sebagian besar dari definisi-definisi ini dirumuskan sebagai tanggapan atas tantangan bidaah terhadap suatu doktrin tertentu. Doktrin-doktrin yang telah didefinisikan wajib diterima segenap umat beriman dan merupakan ajaran otentik Gereja.

Ketika suatu dekrit yang berasal dari konsili atau Paus memaklumkan suatu doktrin tertentu, bukan berarti bahwa doktrin tersebut “baru” ada pada saat dinyatakannya. Sesungguhnya, doktrin mengalami perkembangan dari waktu ke waktu oleh sebab pemahaman tentang topik yang dibahas dalam doktrin tersebut menjadi semakin mendalam dan jelas. Sebagian besar konsili dipanggil guna menanggapi suatu tantangan (bidaah) tertentu. Pernyataan konsili mempertegas ajaran Gereja atas masalah yang dihadapi. Sebagai contoh, Konsili Nicea I (325) menanggapi bidaah Arianisme, Konsili Efesus (431) menanggapi bidaah Nestorianisme, dan Konsili Trente (1545-1563) menanggapi Reformasi Protestan.

Jika seorang Katolik tidak ambil peduli pada doktrin Gereja Katolik, apakah ia sungguh seorang Katolik?
Jika seorang telah dibaptis dalam Gereja Katolik, ia seorang Katolik meski ia tidak tahu atau tidak paham akan doktrin-doktrin Gereja. Adalah kewajiban setiap orang Katolik untuk mempelajari kebenaran-kebenaran iman. Hal ini dapat dilakukan dengan ikut ambil bagian dalam pendalaman Kitab Suci, seminar, retret dan lain cara.

Apa yang harus harus dilakukan (dan diyakini) seseorang agar dapat dianggap sebagai orang Katolik oleh Gereja?
Pertama-tama, ia harus dibaptis. Kedua, ia harus menerima Sepuluh Perintah Allah. Ketiga, ia harus meyakini pengakuan iman seperti diungkapkan dalam Syahadat Para Rasul (atau Syahadat Nicea). Dan yang terakhir, ia wajib menerima pernyataan-pernyataan dogmatis yang dimaklumkan oleh konsili ekumenis dan paus sebagai benar dan mengikat mereka dalam iman. Tentu saja, semuanya ini tidak terjadi seketika saat seorang bayi dibaptis, melainkan merupakan apa yang diharapkan dari seorang beriman dewasa, entah baru maupun telah lama dibaptis.

Apa itu dekrit?
Dekrit adalah doktrin resmi Gereja mengenai iman atau moral yang ditetapkan oleh konsili atau Paus.

Apa itu dogma?
Dogma adalah doktrin resmi Gereja mengenai iman atau moral yang dinyatakan secara meriah dengan kekuasaan Paus (ex cathedra = dari atas tahta, Latin) sebagai gembala dan pengajar tertinggi kepada Gereja universal dengan karisma infallibilitas paus.

Apa itu infallibilitas Paus?
Infallibilitas artinya Paus tidak dapat sesat ketika ia, sebagai gembala dan pengajar tertinggi segenap umat beriman, memaklumkan dengan tindak definitif suatu doktrin mengenai iman dan moral yang mengikat Gereja semesta untuk selamanya.

Infabillitas tidak berarti bahwa Paus tidak dapat berbuat dari dosa. Bapa Suci menerima Sakramen Tobat secara teratur dan setiap kali mengakui keberdosaannya dalam Misa Kudus saat ia mengatakan, “Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa dan kepada saudara sekalian, ….” pula saat ia membasuh tangannya sebelum Doa Syukur Agung sembari berdoa memohon “Tuhan, bersihkan aku dari dosa-dosaku dan cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku.” Infabillitas juga tidak berarti bahwa Paus tak dapat salah apabila ia berbicara mengenai matematika, ilmu pengetahuan, atau hal-hal non-religius lainnya.

Karisma infallibilitas hanya dapat dijalankan apabila Paus mengajarkan kebenaran iman dan moral; Paus memaklumkannya dengan otoritas penuh sebagai Penerus Petrus dan sebagai kepala Gereja universal di dunia; Paus membuat pernyataan mutlak atas doktrin yang dikeluarkan; Paus mengikat segenap umat beriman untuk menerima pengajarannya, atau orang akan jauh dari kebenaran wahyu ilahi dan iman Katolik. Surat-menyurat pribadi Paus, bahkan di mana dibicarakan pengertian yang tepat dan benar, tidak infallible sebab tidak dimaksudkan untuk mengikat segenap umat beriman.

Bahwa Yesus bermaksud menghindarkan Petrus dan para penerusnya dari kesalahan dapat ditemukan dalam pernyataan Tuhan kita kepada Petrus,

“Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga”(Mat 16:19).

Sulit dibayangkan bahwa Yesus akan memberikan persetujuan di surga atas keputusan-keputusan salah yang dibuat para Paus di dunia, sebab itu Ia memberikan perlindungan agar hal yang demikian jangan sampai terjadi. Dan apakah perlindungan itu? Jawabnya dapat kita temukan dalam Matius 28:20 di mana Yesus berjanji bahwa “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Dan lagi dalam Yohanes 14:16-17 di mana Tuhan kita mengatakan, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.” Roh Kebenaran ini, yaitu Roh Kudus, telah menyertai Gereja Katolik sejak Pentakosta.

Sejarah membuktikan bahwa selama lebih dari 2000 tahun ini, tak satu pun Paus yang pernah memaklumkan suatu pernyataan yang salah dalam hal iman ataupun moral. Tak ada dogma yang pernah atau perlu diubah. Sebagian ajaran memang dirumuskan kembali guna memberikan penjelasan yang lebih baik, tetapi intisari dan makna dari pernyataan dogmatis tersebut tidak pernah berubah.

Dapatkah disebutkan contoh ajaran yang tidak dapat sesat?
Ajaran yang tidak dapat sesat jumlahnya sangat sedikit. Sejak ditetapkannya karisma infallibilitas Paus dalam Konsili Vatikan I (1869-1870), hanya ada dua saja ajaran yang dimaklumkan sebagai tidak dapat sesat, yaitu Dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa oleh Paus Pius IX pada tahun 1854, dan Dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga oleh Paus Pius XII pada tahun 1950.

Dengan demikian, apakah orang Katolik harus percaya pada ajaran Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga?
Ya. Ajaran ini, bahwa Bunda Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya ke kemuliaan surga setelah masa hidupnya di dunia, adalah sesuai dengan tradisi-tradisi suci yang sudah dimulai sejak Gereja Perdana dan merupakan kepercayaan yang senantiasa dipegang teguh oleh umat Katolik.

Apakah itu berarti bahwa pengajaran-pengajaran Paus di luar pernyataan yang dimaklumkan sebagai infallible bukan pernyataan-pernyataan yang tidak dapat sesat?
Meski surat-surat ensiklik yang disampaikan kepada seluruh dunia mengenai iman dan moral bukan pernyataan yang infallible, namun jika Paus menegaskan kembali ajaran yang telah lama dipegang teguh Gereja Katolik (sebagai contoh: kekejian kontrasepsi buatan atau bahwa tahbisan imamat hanya dikhususkan bagi kaum laki-laki) penegasan tersebut dianggap sebagai infallible, bahkan jika Paus tidak secara khusus menyebutnya sebagai infallible, sebab Paus secara definitif memaklumkan bahwa suatu doktrin tertentu mengenai iman atau moral harus diyakini.

Umat Katolik tidak dapat mengabaikan pengajaran-pengajaran Paus ataupun Uskup, walau pengajaran tersebut tidak dimaklumkan sebagai infallible. Kristus Sendiri berjanji untuk melindungi ajaran Gereja, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:16). Infallibilitas berlaku bahkan jika Gereja tidak memaklumkan ajaran tersebut secara meriah.

Pertolongan ilahi dikaruniakan kepada Paus dan para Uskup yang berada dalam persekutuan dengannya, apabila mereka, dalam tugas mengajar sehari-hari, mengajukan suatu pengajaran dalam hal iman dan moral yang menghantar pada pemahaman wahyu ilahi secara lebih baik. Umat beriman hendaknya menerima dengan rendah hati serta mentaati dengan sungguh ajaran-ajaran Paus, bahkan apabila Paus tidak berbicara dengan karisma infallibilitas, sebab tugas mengajarnya sehari-hari merupakan perluasan dari karisma infallibilitasnya yang luar biasa.

Apa itu ensiklik?
Ensiklik berasal dari bahasa Latin “Literae Encyclicae” yang berarti “Surat Edaran”. Dalam masa Gereja awali, ensiklik berarti surat edaran Uskup yang ditujukan kepada semua gereja dalam wilayahnya. Sejak abad kedelapan belas, ensiklik berarti surat edaran Paus mengenai doktrin Gereja yang ditujukan kepada para Uskup (terkadang untuk diteruskan kepada umat beriman) di suatu wilayah tertentu atau di seluruh dunia. Ensiklik-ensiklik Paus bukan merupakan pernyataan yang infallible, melainkan pernyataan yang berwibawa dari magisterium biasa. (Lihat juga “Apa itu Bulla?” oleh P. Richard Londsdale).

“Adalah tidak benar beranggapan bahwa apa yang dituliskan dalam surat-surat ensiklik tidak harus diyakini sebagai kebenaran karena dalam ensiklik para paus tidak menjalankan kekuasaan tertinggi magisterium mereka. Sebab ajaran-ajaran ini diajarkan melalui magisterium biasa, di mana berlaku hal ini, `Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku' (Lukas 10:16); dan biasanya apa yang dinyatakan serta dipertegas dalam surat-surat ensiklik, telah ada dalam doktrin Katolik. Tetapi, jika Uskup Tertinggi dalam tindakannya, setelah pertimbangan yang matang, menyatakan pendapat mengenai suatu masalah yang hingga waktu itu masih merupakan persoalan yang kontroversial, jelaslah bagi kita semua bahwa masalah ini, menurut pemikiran dan keputusan Paus, tak dapat lagi dianggap sebagai pertanyaan yang bebas didiskusikan di antara para teolog.” ~ Humani Generis, Paus Pius XII

Apakah orang-orang Katolik yang tidak sependapat dengan ajaran-ajaran Gereja Katolik secara otomatis menjadi orang-orang Protestan?
Ada berbagai macam tingkat selisih pendapat. Orang dapat bertanya-tanya apakah menyambut Komuni Kudus di tangan dianggap pantas, atau apakah anak-anak perempuan dapat diperkenankan menjadi pelayan altar. Hal-hal demikian lebih merupakan peraturan-peraturan Gereja yang dapat berubah. Apabila pokok persoalan yang dipertanyakan kemudian menjadi titik perpecahan dalam komunitas Gereja, maka hal itu bukan lagi mempertanyakan, melainkan memberontak. Orang dapat mempertanyakan pokok-pokok dogma guna menggali pemahaman yang lebih mendalam tentangnya, tetapi tidak mengubahnya. Begitu seorang Katolik secara tahu dan sadar menolak suatu doktrin tertentu Gereja Katolik, ia bukan lagi seorang Katolik; ia telah mengekskomunikasi dirinya sendiri (lihat “Ekskomunikasi: Panggilan untuk Kembali Hidup dalam Rahmat” oleh P. William P. Saunders).

Sumber : 1. “I'm Glad You Asked: Questions from the parishioners of St. Charles Borromeo Catholic Church Picayune, Mississippi” ; by Fr. John Noone; www.scborromeo.org; 2. “Tanggapan Katolik Atas Berbagai Pertanyaan Mendasar” oleh Philip St Romain; penerbit Kanisius 1995; 3. berbagai sumber

Disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”




0 comments:

 
© Copyright 2008 Emmaus Journey Community . All rights reserved | Emmaus Journey Community is proudly powered by Blogger.com | Template by Template 4 u and Blogspot tutorial